Kamis, 09 Agustus 2018

Yuyung Abdi (Jawa Pos) berbagi untuk pegiat KIM Surabaya (7/8)
Jambangan Hijau - Nama Yuyung Abdi identik dengan koran Jawa Pos, harian beroplah terbesar di kawasan Indonesia timur. Gabung sebagai "tukang poto" JP sejak tahun 1995, membuat pundi-pundi kekayaannya bertambah dan melambungkan namanya diantara fotografer lain yang ada di Surabaya. Sarjana Kimia lulusan Fakultas Sains dan Teknologi Unair, didapuk oleh Dinas Kominfo Kota Surabaya berbagi ilmu kepada pegiat KIM Kota Surabaya di 154 Kelurahan yang ada. Pembinaan berjalan tiga hari, sejak hari Selasa hingga Kamis pagi ini. Tanggal 7 Agustus, sesi pertama yang kami ikuti berlangsung pada pukul 13.00 sampai 16.30. Sementara hari Rabu dan Kamis, 8 - 9 Agustus pembinaan berlangsung mulai pukul 10.00 - 14.00.

Yuyung termasuk pewarta poto yang produktif membagikan karya-karyanya lewat buku yang dijual bebas. Tercatat sudah tiga buku dihasilkan, antara lain Lensa Manusia (2004), Sex For Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 kota di Indonesia (2007) dan Surabaya Cantik (2010). Belum lama ini melalui Elex Computindo salah satu publiser dibawah Gramedia group,  Yuyung didorong untuk menerbitkan buku ke-empatnya yang berjudul Photography from My Eyes (2012). Siang kemarin adalah saat-saat genting bagi kami yang menjadi audien, kelas fotografi-nya. Bagaimana tidak, saat jam tidur siang harusnya berlangsung. Kami malah harus melahap materi, sebagai bekal memperkaya teknik kami sebagai blogger. Dimana cara mengambil foto dokumentasinya masih jauh dari sempurna. 

Sebagai jurnalis warga, kami pegiat KIM kota Surabaya diharapkan tidak hanya menjadi agen informasi. Data yang kami sampaikan haruslah akurat (bukan hoaks/data palsu/tidak jelas). Bahasa sederhana yang "empuk", ringan untuk dicerna pembaca yang beragam latar belakangnya. Setelah konten yang kami sampaikan cukup "membumi", enak dibaca dan diperlukan masyarakat sekitar kami (proksimitas).  Penyajian gambar dokumentasi yang cantik dan "komunikatif" adalah sajian wajib. Konten berita berbobot dengan foto "jembret" (baca kualitas jelek), membuat pembaca enggan untuk meneruskan bacaan dari berita yang kami (pegiat KIM) tampilkan. Di awal sessi sebelum Yuyung, ada Hadi Santoso penulis yang menjadi langganan penghargaan lomba tulis nasional.

Kalau Yuyung membuka "saat genting" siang itu dengan berbagai tampilan foto yang memanjakan mata kami. Misalnya foto wanita cantik, kemudian kami ketahui sebagai Putri Indonesia 2018 dari berbagai angle (baca : sudut pengambilan). Termasuk bagaimana pencahayaan, kecepatan kamera dan ISO-nya. Membuat kami jadi "ngeh" mendapatkan foto berita yang baik dan benar harus bagaimana. Pemateri kedua, Hadi Santoso mendorong pegiat KIM Kota Surabaya, harus lebih berani menulis berita lokal. Semakin sering kita menulis, semakin mudah kita menuangkan informasi yang perlu untuk masyarakat. Menulis itu gampang-gampang susah. Apalagi kalau menulis dengan bahasan yang lebih "dalam", tapi yakinlah kalau kita serius dan tekun, jadi bloger bisa membuat kita kaya! ungkapnya (BNPY)


0 komentar:

Posting Komentar