Jumat, 02 Oktober 2015

Kunjungan Tri Risma Harini bersama delegasi APEC ke Jambangan


NJH – Jambangan.  Untuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia, hanya delegasi dari propinsi Aceh yang belum pernah singgah ke Jambangan. Sementara untuk level Internasional, disamping delegasi ASEAN, delegasi beberapa Negara Asia – Pasific yang tergabung dalam APEC sampai dengan PBB atau lebih dikenal dengan United Nation pernah singgah di Jambangan. Tak terhitung, sudah berapa orang kader lingkungan (dari unsur masyarakat) hingga SKPD dari jajaran pemerintah tingkat kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten hingga propinsi dan nasional pernah belajar soal pengelolaan lingkungan hidup secara komunal di Jambangan, tandas Pandji Laras sekretaris RW III kelurahan Jambangan.

Mengapa Jambangan sampai begitu “tenar” hingga organisasi sekelas PBB mau jauh-jauh dari markas besarnya di New York  “sambhang” ke “ndheso” Jambangan. Mari kita mundur sejenak ke masa 70 atau 80 an. Saat itu Dam Gunung Sari atau lebih dikenal sebagai rolag (pintu air dalam bahasa belanda, red) gunungsari  sedang  menjadi mercusuar pembangunan “mega” insfrastruktur pendukung program swasembada pangan Indonesia di era Soeharto. Pintu air yang kini dikelola Perum Jasa Tirta I, wilayah Anak Sungai 3, diatur langsung oleh satelit pengoperasiannya. Ada empat pintu besar yang sistem buka tutupnya berjalan otomotas sesuai indikator debet air sebagai passwordnya. Aliran dari dam gunungsari ini kemudian mengaliri sawah-sawah warga kecamatan Jambangan yang tersebar luas di sisi timur wilayah kecamatan Jambangan. 

Tersebut nama satu orang tokoh masyarakat yang bernama Supriatun Djupri (alm.) beliau tinggal di kawasan RT 04/RW III kelurahan Jambangan. Dengan tipikal “ndheso” yang sebagian besar penduduknya bertani, masih tinggi solidaritas maupun gotong-royongnya, hingga mempertahankan budaya adat setempat  membuat kawasan Jambangan sangat ideal sebagai tempat tinggal yang sejuk dan asri. Ketokohan bu Djupri yang mengajak warganya memilah sampah, kemudian hasil pilahan sampah kering tadi  diolah menjadi “sesuatu” (baca kerajinan tangan layak jual, red) inilah yang membuat Jambangan kemudian dikenal luas. Seperti melegalkan status “ndheso” Jambangan di kancah Indonesia sebagai kawasan sadar lingkungan hidup, pada tahun 2008 pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup menobatkan Supriatun Djupri (alm.) sebagai penerima penghargaan Kalpataru tingkat Nasional dengan kategori perintis Lingkungan Hidup. (B O N I)

0 komentar:

Posting Komentar